Make your own free website on Tripod.com


Kamis, 03 September 1998 Wawancara




Ir.I Nyoman Pujawan MEng:
Ini Semua Berkat Internet

Harus diakui, revolusi informasi digital - ditandai dengan kehadiran Internet - yang marak dalam 2-3 tahun terakhir ini, belum banyak dimanfaatkan secara maksimal dan kreatif oleh orang-orang Indonesia. Baru belakangan ini, pemanfaatan itu mulai terlihat. Pemerintah misalkan, meski sangat terlambat, kini sudah mencanangkan penggunaan email sebagai sarana komunikasi.

Dan satu terobosan yang patut mendapat acungan jempol, dilakukan oleh Forum Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (TI-ITS) Surabaya. Saat ini, 1-6 September 1998, TI-ITS menggelar apa yang disebut Netseminar. Topik yang dipilih sangat konstektual, yakni soal distribusi, yang memang sedang menjadi masalah di Indonesia. Netseminar itu merupakan sebuah seminar yang digelar melalui jaringan Internet. Sebuah Netseminar pertama di Indonesia. Bisa dibayangkan luas jangkauannya, maupun keterlibatan pemikiran pesertanya. Dan bisa dipastikan, biayanya sangat murah ketimbang menggelar seminar di hotel-hotel.

Salah satu orang yang ada di balik penyelenggaraan Netseminar itu, adalah Ir.I Nyoman Pujawan MEng. Dosen ITS jurusan Teknik Industri yang menjadi ketua panitia Netseminar ini, justru mengorganisasikan Netseminar ini dari Inggris. Untuk diketahui saja, I Nyoman Pujawan, sejak Oktober 1997 menempuh program S3 pada bidang Management Science (Operational Research) di Lancaster University, UK. Berikut cyberinterview Budiono Darsono dari detikcom dengan I Nyoman Pujawan, Jumat (4/9):

Bagaimana ide awal Netseminar TI-ITS?

Netseminar ini merupakan sebuah upaya pemberdayaan teknologi informasi yang kalau kita manfaatkan bisa memberikan kekuatan yang maha besar dalam berbagai aspek kehidupan. Kami yang menyelenggarakan kebanyakan masih berada di luar negeri untuk studi lanjut, manakala kami melihat persoalan distribusi di Indonesia penting dan menarik didiskusikan.

Penyelenggaraan seminar dengan melalui jaringan internet, baik dalam tampilan situs web Netseminar maupun email ini, tentu sangat menghemat biaya dan waktu. Dengan begitu kami tidak mengenakan biaya apapun terhadap peserta. Peserta bisa mengikuti seminar tanpa harus beranjak dari tempat kerja atau dari rumah. Asalkan ia terhubung dengan jaringan internet. Demikian pula pemakalah. Kami tidak memberi imbalan. Situasi ini cocok untuk kondisi krisis yang kita hadapi saat ini. Dengan demikian, alternatif ini menjadi pilihan yang optimal pada situasi yang sedang dilanda krisis.

Dalam Netseminar ini sejumlah menteri ikut dilibatkan. Bagaiaman respon mereka?

Secara implisit saya melihat respon yang cukup baik dari para menteri yang kami minta untuk ikut menuangkan pemikirannya melalui Netseminar. Bapak Rahardi Ramelan misalnya, walaupun tidak terhubungkan dengan mailing list seminar ini, turut menyertakan lima stafnya. Di samping Pak Menteri juga mengirimkan makalah. Malah Pak Menteri juga berjanji menyusulkan beberapa komentar lanjutan setelah pertanyaan dan tanggapan peserta kami rangkum. Menteri Koprasi Adi Sasono juga merespon dengan antusias. Pak Adi melalui stafnya sudah mengirimkan makalah.

Sejauh ini bagaimana respon publik?

Wah di luar dugaan kami. Peserta yang tercatat mencapai 165. Padahal semula kami hanya membatasi peserta 150 orang saja. Bahkan setelah pendaftaran peserta kami tutup, masih banyak yang menghubungi untuk ikut sebagai peserta. Mereka yang jadi peserta itu, datang dari berbagai penjuru. Terbanyak dari Indonesia sendiri, selebihnya mereka yang kini bermukim di Kanada, AS, Inggris, Perancis, Jerman, Thailand, Malaysia, Australia, Belanda, dan Jepang.

Bagaimana Anda menilai jalannya diskusi dalam Netseminar?

Jalannya diskusi cukup teratur. Jumlah komentar boleh dikatakan cukup, tidak berlebihan, tetapi kami menilai kualitas opini mereka rata-rata cukup tinggi. Moderator hanya turun saat-saat tertentu untuk memberikan arahan, ringkasan, dll. Jadi tidak terlalu masalah dengan simpang siurnya arus pendapat. Memang bahasan bisa agak melebar, namun dengan sendirinya akan terpilih topik-topik yang paling menarik.

Bagaimana dengan pembiayaan Netseminar ini?

Seperti saya katakan di atas, kami tidak memungut biaya apa-apa dan kami tidak membayar pemakalah. Demikian juga panitia yang bekerja tanpa imbalan. Kami hanya mendapat dukungan dari RadNet berupa penyediaan back up untuk menghindari kemacetan bila mailing list utama yang kami gunakan tidak berfungsi. Panitia pun berada terpencar-pencar. Saya sebagai ketua panitia ada di Inggris, sekretarisnya ada di Kanada, beberapa yang lain ada di Amerika dan Indonesia. Koordinasi biasanya menggunakan e-mail dan rapat menggunakan IRC.

Ada rencana meneruskan Netseminar ini di kemudian hari?

Yang jelas kami masih berniat melakukan hal serupa di masa yang akan datang, walaupun tidak harus rutin. Ini berkaitan dengan tenaga sukarela yang ketersediaannya masih sukarela juga. Usaha menghubungi pemakalah, pembuatan web site, dll. cukup menyita waktu, manakala pelajaran dan riset tidak bisa kita tinggalkan.

Bagaimana idealnya agar Netseminat itu bisa berkesinambungan?

Idealnya, agar kegiatannya berlangsung kami mestinya punya tenaga terampil yang bisa membantu kegiatan-kegiatan teknis sehingga tidak banyak menyita waktu bekerja dan belajar. Persoalan pembiayaan juga masih menjadi pemikiran, setidaknya mereka yang bekerja bisa dihargai waktunya, walaupun ini tidak berarti harus menjadi kegiatan yang profit oriented. Khusus untuk persoalan logistik, kami mungkin akan membentuk semacam forum diskusi yang khusus membahas masalah ini, mengingat persoalan logistik (salah satunya adalah sistem distribusi) adalah persoalan sangat vital di Indonesia.

Bagaimana korrdinasi penyelenggaraan Netseminar kok bisa bagus padahal semuanya ada di LN?

Ya itu tadi. Ini semua berkat internet. Apalagi kalau kita sekolah di luar negeri. Biasanya kita punya fasilitas gratis untuk ini. Jadi koordinasi kami menggunakan e-mail atau fasulitas IRC. Banyak orang menggunakan IRC untuk ngobrol, tapi mungkin nggak banyak yang berpikir ini bisa digunakan untuk 'rapat'.