Make your own free website on Tripod.com
NETSeminar:
Merancang dan Memelihara Jaringan Distribusi Barang
Yang Tangguh Dan Efisien Di Indonesia
1-5 September 1998
Penyelenggara :
FRUM TI-ITS


 

MANAJEMEN DISTRIBUSI PRODUK-PRODUK AGROINDUSTRI

 Dr. Ir. H.S. Dillon
 Direktur Eksekutif Centre for Agriculture Policy Studies, Mantan Staf Ahli Menteri Pertanian
 
 

 I. LATAR BELAKANG

 Kegiatan distribusi adalah suatu kegiatan ekonomi yang berperanan  menghubungkan kepentingan produsen dengan konsumen, baik untuk produksi  primer, setengah jadi maupun produk jadi.  Melalui kegiatan tersebut  produsen memperoleh imbalan sesuai dengan volume dan harga produk per  unit yang berlaku pada saat terjadinya transaksi.  Hasil  pemasaran  tersebut diharapkan dapat memberikan keuntungan yang  proporsional bagi  petani atau produsen komoditas yang bersangkutan sesuai dengan biaya,  resiko dan  pengorbanan yang sudah dikeluarkan.  Dilain pihak para pelaku  pemasaran diharapkan memperoleh imbalan jasa pemasaran proporsional  dengan pelayanan dan resiko yang ditanggungnya. Dalam bidang agroindustri,  untuk istilah distribusi lebih sering digunakan istilah tataniaga atau  pemasaran.

Karakteristik produk-produk agroindustri Indonesia adalah  didominasi oleh usaha-usaha kecil (mikro) dan disisi lain, kebutuhan  suatu industri menghendaki volume pasokan yang cukup besar, sehingga  untuk mencapai skala ekonomi diperlukan adanya keterpaduan dengan  perusahaan besar dalam bentuk kerjasama kemitraan usaha yang adil dan  proporsional bagi masing-masing pelaku.  Selain itu, sifat-sifat  produk agroindustri yang antara lain adalah bulky, risky, perishable, volumineous, heterogen dalam mutu, standar dan lain-lain akan sangat  mempengaruhi upaya dan kegiatan manajemen distribusinya.

Manajemen distribusi produk-produk agroindustri merupakan bagian  yang sangat penting dalam rangkaian usaha pengembangan produk yang  bersangkutan maupun dalam pengembangan ekonomi  secara  keseluruhan,  terutama dikaitkan dengan aspek globalisasi produksi dan globalisasi
pasar yang akhirnya akan menimbulkan persaingan global.  Dalam globalisasi produksi, setiap negara atau perusahaan dapat melakukan kegiatan  produksi dimana saja  yang paling menguntungkan baginya baik untuk  seluruh komponen maupun sebagian komponen produknya ; atau menurut
bentuk agroindustri primer, setengah jadi maupun produk jadi (batasan  produk agroindustri disini adalah produk-produk hilir pertanian). Dalam  era globalisasi, maka akan terjadi proses integrasi pasar domestik dengan  pasar dunia, sehingga dengan demikian semua kegiatan harus berwawasan
competitiveness dan efisiensi, termasuk kegiatan distribusinya.

Bilamana dikaitkan dengan inti kebijaksanaan pangan nasional  yaitu penyediaan pangan yang cukup tersebar merata pada tingkat harga  yang terjangkau oleh daya beli masyarakat dan masih mampu menggairahkan  petani/produsen sehinggga tercipta upaya untuk meningkatkan produksi, maka terdapat 3 (tiga) aspek yang saling berkaitan dalam kebijaksanaan  tersebut, yaitu aspek produksi, aspek distribusi dan aspek konsumsi.   Aspek distribusi dalam hal ini sangat berperan dalam rangka stabilisasi  harga pangan nasional.

Selanjutnya akan dibahas manajemen distribusi/tataniaga/pemasaran  produk-produk agroindustri yang mencakup efisiensi saluran distribusi  /pemasaran, perlunya jaringan distribusi yang efektif dan efisien dalam  rangka stabilisasi harga dan kegiatan manajemen produk-produk spesifik
 agroindustri.
 

 II.  SALURAN DISTRIBUSI /TATANIAGA/PEMASARAN PRODUK AGROINDUSTRI

 Distribusi sebagaimana dikatakan sebelumnya adalah pergerakan  produk disemua tahap pengembangannya, dari pemerolehan sumberdaya melalui  proses produksi sampai ke penjualan akhir.  Dari pengertian ini, distribusi  produk agroindustri dapat dilihat sebagai suatu proses penambahan nilai  atau kepuasan kepada bahan baku dengan mengalihkan bahan baku itu ke
 produsen, ke pedagang perantara, dan akhirnya ke konsumen akhir.

Saluran distribusi/pemasaran adalah rute dan status kepemilikan  yang ditempuh oleh suatu produk ketika produk ini mengalir dari penyedia  bahan mentah melalui produsen sampai ke konsumen akhir.  Saluran ini  terdiri dari semua lembaga atau pedagang perantara yang memasarkan produk
atau barang/jasa dari produsen sampai ke konsumen. Di sepanjang saluran  distribusi terjadi beragam pertukaran produk, pembayaran, kepemilikan dan  informasi.  Saluran distribusi diperlukan karena produsen menghasilkan  produk dengan memberikan kegunaan bentuk (form utility) bagi konsumen  setelah sampai ke tangannya, sedangkan lembaga penyalur membentuk atau  memberikan kegunaan waktu, tempat dan pemilikan dari produk itu.

Saluran distribusi produk-produk agroindustri terutama dibutuhkan karena adanya perbedaan yang menimbulkan celah-celah atau kesenjangan  (gap) diantara produksi dan konsumsi, yang terdiri dari:
 

 
 III.  MANAJEMEN SISTEM DISTRIBUSI TATANIAGA/PEMASARAN AGROINDUSTRI
 
 Sistem tataniaga agroindustri kita seringkali dikatakan merupakan bagian  yang paling lemah dalam mata rantai perekonomian atau dalam aliran  barang-barang.  Dengan kata lain  efisiensi di bidang tataniaga masih  rendah, sehingga kemungkinan atau peluang untuk peningkatan efisiensinya
 masih besar.
 
 Secara konsepsional, sistem tataniaga/pemasaran dapat dianggap efisien  apabila memenuhi 2 (dua) syarat sebagai berikut :  A.  Sistem Distribusi/Tataniaga/Pemasaran yang Efisien
 
Banyaknya rangkaian jual beli  yang dialami oleh suatu komoditi  sejak di produksi sampai pada konsumen akhir juga mempengaruhi efisiensi  pemasaran produk-produk yang bersangkutan.  Semakin banyak jumlah  transaksi yang dialami suatu barang sebelum mencapai konsumen akhir
semakin besar   biaya pemasaran yang ditimbulkannya, karena setiap  transaksi akan dijadikan sumber keuntungan bagi pelakunya.  Semakin  tinggi  biaya pemasaran menunjukkan semakin rendahnya efisiensi sistem  pemasarannya.
 
Efisiensi pemasaran juga sangat dipengaruhi  oleh efisiensi  sistem transportasi  yang menghubungkan lokasi  produsen dan konsumen.  Untuk komoditas ekspor hal ini menjadi  lebih penting karena biaya  transportasi akan mempengaruhi harga penawaran, yang pada akhirnya akan  mempengaruhi daya saing produk yang bersangkutan di pasar internasional.  Biaya administrasi di pelabuhan, retribusi dan pungutan-pungutan lain  merupakan tambahan  biaya pemasaran yang cukup mempengaruhi harga  penawaran.  Hal demikian mempunyai peranan yang cukup  besar terhadap lemahnya daya saing produk-produk ekspor Indonesia di luar negeri.
 
Sistem pemasaran komoditas pertanian yang tidak efisien, seperti  yang  terjadi pada hampir semua daerah produksi pertanian, menyebabkan  posisi petani yang kurang menguntungkan.  Upaya untuk memperbaiki posisi  petani dalam sistem pemasaran  komoditas perlu dilakukan dengan
memperhatikan : Menghadapi permasalahan petani, pemerintah telah mengusahakan agar petani mendapat kesempatan  untuk meraih marjin yang lebih besar sehingga pendapatan mereka proporsional dengan pendapatan pedagang dan pengolah  maupun dengan pelaku ekonomi di sektor lainnya.

Memperpendek rantai  tata niaga adalah suatu  alternatif untuk mengurangi biaya  pemasaran
sehingga memberi  peluang peningkatan  harga  di tingkat petani.  Alternatif yang lain adalah mengusahakan pemasaran yang lebih  terarah  oleh petani, dimana penjualan dapat dilakukan pada saat harga  menguntungkan, dan bukan pada saat panen.  Untuk dapat melakukannya,  petani harus mempunyai sarana penyimpanan produk dan keuangan yang kuat  untuk membiayai keperluan hidupnya selama produknya belum terjual.

Sistem distribusi/pemasaran berbagai komoditas menunjukkan bahwa  secara umum pemasaran komoditi pertanian mempunyai ciri yang sama. Volume  komoditas yang diproduksi atau dikelola per-satuan waktu merupakan faktor  penentu jumlah keuntungan yang bisa diperoleh masing-masing pelaku kegiatan  produksi dan pemasaran agribisnis tersebut. Dalam hal ini petani sangat
 tergantung pada luas lahan dan siklus tanaman, disamping modal kerja.
 
Sebaliknya pada pedagang, faktor penentu adalah  modal, karena dengan lahan  terbatas dapat mengelola komoditi yang jauh  lebih besar volumenya. Konsekuensi dari kondisi demikian adalah peluang yang tidak seimbang diantara  mereka untuk meraih pendapatan dari komoditi yang sama.  Petani mempunyai  peluang yang paling kecil karena batasan  lahan, umur dan siklus tanaman,
ditambah dengan resiko kegagalan panen yang disebabkan oleh faktor-faktor  yang tidak bisa mereka kuasai, seperti iklim, bencana alam, gangguan hama  dan sebagainya.
 
Selain itu, kondisi yang ditentukan oleh sifat alam komoditas pertanian tersebut   masih sering ditambah  dengan  ketidak seimbangan  antara jumlah  petani produsen dan pembeli sehingga proses penentuan  harga lebih menguntungkan pedagang.  Pemasaran menjadi  tidak transparan
karena  kenaikan  harga di tingkat konsumen tidak ditransmisikan ke  tingkat petani.
 
Untuk komoditi yang bersifat musiman, petani menghadapi tambahan  faktor pembatas, karena  pada saat musim panen produksi komoditas sejenis  melimpah sehingga   harga cenderung menurun.  Petani yang terdesak  kebutuhan hidup, akan menerima harga yang kurang menguntungkan tersebut.
 
Biaya transportasi dan pungutan-pungutan merupakan komponen yang  cukup besar dalam biaya pemasaran.  Biaya yang besar tersebut menyebabkan  petani merasa berat untuk memasarkan sendiri produknya.  Untuk  meningkatkan peluang petani memperoleh keuntungan yang lebih tinggi,
faktor-faktor  pembatas dalam sistem pemasaran yang dapat ditanggulangi  antara lain adalah : melakukan penjualan produk secara  bersama-sama/massal, pengembangan sarana dan prasarana transportasi  terutama yang menghubungkan sentra produksi dengan lokasi pemasaran,  penyediaan informasi pasar mengenai harga, volume dan lokasi yang  membutuhkan.
 
 
B.  Jaringan Distribusi yang Efektif dan Efisien
 
Penciptaan harga yang stabil perlu diupayakan dengan menjamin  cukupnya suplai diseluruh wilayah Indonesia sepanjang masa terutama yang  berasal dari produksi dalam negeri, sehingga kebijaksanaan stabilisasi  harga pangan sebagai pencipta harga yang terjangkau oleh daya beli
masyarakat dan masih mampu menjamin gairah berproduksi petani dilaksanakan melalui fungsi-fungsi pengadaan dan penyaluran.  Dengan demikian,  usaha stabilisasi harga harus menjamin tersedianya pasokan yang tepat  jumlah dan waktu serta tersedia di seluruh daerah dan disalurkan melalui
jaringan distribusi yang efektif dan efisien.
 
Jaringan distribusi pangan selama ini dilakukan oleh pedagang  besar, menengah, kecil dan koperasi dalam saluran distribusi sesuai  dengan kemampuan dan lingkungannya.  Sebagai bagian dari sistem pangan,  jaringan distribusi mempunyai peranan  yang penting dilihat dari aspek upaya mendorong dalam meningkatkan produksi, menjamin stabilitas harga,  memberi kesempatan kerja dan usaha serta menyediakan pangan kepada konsumen.
 
Dari aspek peningkatan produksi, sektor distribusi menjadi  penghela karena  dapat mendorong / mengarahkan pengalokasian sumber-sumber  produksi secara efisien dan efektif oleh produsen.  Dari sisi stabilitas  harga, jaringan distribusi yang efektif mampu menjamin penyediaan pangan  yang cukup antar waktu dan antar daerah sehingga memudahkan konsumen  untuk  mendapatkan pangan sesuai kebutuhannya pada tingkat harga yang  terjangkau.
 
Dari sisi penyediaan kesempatan kerja dan usaha, saluran  distribusi yang efektif mampu menciptakan kesempatan usaha bagi pedagang  bahan baku, pengumpul, pengolah, pedagang besar,  grosir, pengecer dan  buruh yang  terlibat dalam setiap mata rantai aktivitas perdagangan
tersebut. Oleh karena itu, gangguan dalam sistem distribusi memiliki  dampak ganda dilihat dari penurunan kesempatan kerja baik dari sisi  produksi yang menghasilkan barang tersebut serta sisi pemasaran yang  melaksanakan kegiatan distribusi.  Dampak selanjutnya adalah pada  konsumen yang juga mengalami kerugian.
 

 C.  Manajemen Transaksi
 
 Mengingat sifat-sifat produk agroindustri yang telah disebutkan  sebelumnya, maka mengharuskan distribusi dilakukan dengan sistem  transaksi yang memperkecil resiko dan memperbesar nilai tambah.  Hal ini  dapat dilakukan misalnya dengan sistem hedging dan future trading.
 

D.  Manajemen Sarana dan Prasarana

 Harus diupayakan agar sesuai dengan sifat-sifat produknya.  Bagi  produk yang bulky dan volumineous dapat diupayakan kedekatan konsumen  dalam pengembangan produknya.  Sedangkan bagi produk yang risky dan  perishable dapat dilakukan pengembangan sarana dan prasarana transportasi  spesifik seperti pendingin dan sebagainya.
 

E.   Manajemen Kelembagaan
 
Mengingat produk agroindustri seringkali heterogen karena produsen yang kecil dan jumlahnya banyak, maka diperlukan institutional building dalam kelembagaan distribusinya.

Berbagai lembaga pemasaran telah dibentuk oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat dengan maksud membantu petani, seperti koperasi maupun pusat-pusat  pemasaran lainnya.  Namun demikian masih banyak yang belum  mampu menjalankan tugasnya  karena alasan kekurangan modal dan lemahnya  keahlian manajemen,  keuangan maupun manajemen komoditas, juga keahlian
 pemasarannya.  Hal ini banyak  terjadi  terutama pada KUD.  Akibat arus  barang dan uang yang tidak lancar, maka merugikan petani.
 

IV. KESIMPULAN

 Terdapatnya beberapa kesenjangan yaitu geographical gap, time  gap, quantity gap, variety gap dan communication & information gap  diantara kegiatan produksi dan konsumsi produk-produk agroindustri, maka  dibutuhkan saluran  distribusi untuk dapat menyalurkan produk dari pihak
 produsen kepada pihak konsumen pada waktu yang tepat dan tempat yang  sesuai dengan kebutuhan.
 
 Faktor-faktor penyebab lemahnya posisi petani dalam sistem  pemasaran adalah disamping lemahnya permodalan, sifat komoditas yang  mudah rusak, skala usaha yang kecil, sistem transportasi yang kurang  memadai, lembaga-lembaga pemasaran yang belum berfungsi baik dan resiko  kegagalan panen serta struktur pasar yang cenderung oligopsonis.

Pengembangan  daerah sentra produksi baru hendaknya diikuti oleh  kesiapan lembaga pemasaran dan infrastrukturnya dalam membantu menyerap  produksi petani.  Kesiapan ini sangat diperlukan agar produksi yang  dihasilkan petani dapat disalurkan ke daerah konsumsi.  Jika hal ini tidak diperhatikan maka petani akan kesulitan memasarkan produksinya.

Kurangnya informasi mengenai kebutuhan dan produksi pada daerah  konsumsi juga merupakan kelemahan struktur kelembagaan perdagangan pada  pusat produksi dengan pusat konsumsi serta infrastruktur yang tersedia.  Oleh karena nya perlu diciptakan koordinasi yang baik dalam sistem
perdagangan dari daerah produksi ke daerah konsumsi serta  penyempurnaannya melalui pengembangan jaringan usaha  koperasi.

 Pembentukan jaringan usaha koperasi ini didasarkan pada tidak  adanya arus informasi tentang situasi daerah produksi pada pedagang di  daerah konsumsi dan terbatasnya informasi daerah konsumsi pada pedagang  di daerah produksi.  Informasi yang tidak diketahui pedagang umumnya
 mengenai musim panen, jumlah produksi dan harga di daerah produksi,  sedangkan pedagang di daerah produksi tidak mengetahuii informasi tentang  waktu yang tepat untuk mengirim barang sesuai dengan permintaan setiap  bulan pada berbagai wilayah konsumsi.

Jaringan distribusi yang efektif dan efisien mampu menjamin  stabilitas harga pangan yaitu dengan menjamin ketersediaan pangan yang  cukup antar waktu dan antar daerah pada tingkat harga yang terjangkau.

Dalam upaya mengembangkan manajemen distribusi spesifik  produk-produk agroindustri, manajemen transaksi dan manajemen sarana dan  prasarana serta manajemen kelembagaan perlu disesuaikan dengan  sifat-sifat dan karakteristik produk-produk agroindustri.